Budaya

Budaya Energi Nuklir

Pembangkit listrik tenaga nuklir direncanakan akan dibangun dan dioperasionalkan di Semenanjung Muria, Jawa Tengah, pada tahun 2017 mendatang. Rencana ini merupakan pilihan sumber energi listrik bagi masa depan Indonesia. Yang terpenting dalam rencana pembangunannya harus dijamin manfaat dan penggunaan energi nuklir itu benar-benar dapat diandalkan, serta menjamin keamanan baik tingkat nasional maupun internasional.

Pasokan energi nuklir yang persentasenya sekitar dua persen ini, merupakan bagian dari skenario optimalisasi energi mix yang dikeluarkan oleh Pemerintah melalui Peraturan Presiden No 5/2006 tentang Kebijakan Energi Mix Nasional.

Langkah itu diambil, karena Indonesia menyadari bahwa kondisi eksisting perolehan sumber energi yang tergantung pada minyak tidaklah sehat. Maka, disusunlah sebuah strategi berisi target penggunaan sumber sumber lain selain minyak, gas, dan batu bara.

Meski timbul pro dan kontra terhadap rencana ini, namun energi ini mampu menyumbang sekitar 17 persen listrik dunia. Kecenderungan semakin menipisnya bahan bakar fosil, serta tidak meratanya kontribusi sumber daya energi fosil, akan mengakibatkan energi nuklir masih tetap memiliki peran yang penting.

Hal ini disampaikan Ir. H. Nizar Dahlan, M.Si dari Komisi VII DPR-RI yang juga Wakil Ketua Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) belum lama ini. Menurut Nizar, proyek tenaga nuklir untuk kelistrikan ini sudah saatnya dibangun di tanah air. Apalagi, kata dia, anggaran yang akan digunakan untuk mega proyek itu sudah ada. ”Jadi saya kira rencana ini harus dilaksanakan dengan segera demi untuk kepentingan bersama,” katanya.

Menurutnya, pemanfaatan energi pada sektor transportasi merupakan komponen yang utama, meskipun sektor perumahan dan perindustrian juga mempunyai porsi pemakaian yang besar. Sampai saat ini hampir seluruh pasar energi panas dipasok dengan cara membakar bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak, gas dan kayu.

Ditambahkannya, pada dasarnya keberadaan reaktor nuklir sama dengan pembangkit listrik lainnya yang berbahan bakar fosil. Meski Nizar mengakui pengadaan reaktor nuklir membutuhkan modal yang sangat besar yakni mencapai Rp 20 triliun per 1000 MW-nya. Oleh karena itu, pengoperasian beban dasar dengan pencapaian faktor beban setinggi-tingginya dibutuhkan sehingga dapat berkompetisi dengan sumber sumber energi alternatif lainnya.

Dijelaskannya, lembaga atau badan yang menangani pembangunan pembangkit tenaga nuklir di Indonesia adalah Badan Tenaga Nuklir (BATAN) yang didirikan sejak 1958. Dan pada Desember tahun lalu, pemerintah telah menyetujui penggunaan energi nuklir untuk pembangkit listrik dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah (PP) tentang Perizinan Reaktor Nuklir No 43/2006.

Dengan PP itu, maka pemerintah telah memberikan lampu hijau bagi pembangunan reaktor Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pada tahun 2010 di Semenanjung Muria dan mulai beroperasi pada tahun 2017 dengan kapasitas pembangunan pada tahap awal 1000 MW, yang akan mampu memasok  10 persen dari total kebutuhan listrik di Jawa-Bali.

Pengoperasian PLTN itu merupakan langkah awal untuk mencapai target jangka panjang, di mana hingga tahun 2025 Indonesia ditargetkan memiliki empat unit PLTN berkapasitas 4.000 MW.  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s